Newest Post

My Beloved Rendra

| Minggu, 13 April 2014
Baca selengkapnya »
Namanya Rendra, padahal saya enggak tau itu cowok atau cewek, anggap saja dia cowok, jadi nama yang saya berikan tidak sia-sia :D 
Jadi... waktu itu, saya sedang sedang praktikum ipa, kelompok saya sedang membuktikan berbagai makanan yang berbahaya yang mengandung boraks, dan kelompok tetangga sedang praktik tentang pencemaran yang terjadi pada makhluk hidup, dan obyeknya adalah ikan. Begitu kagetnya saya ketika ikan tersebut diberi perlakuan dengan dimasukkan pada air yang telah dicampur dengan cuka, air panas dan detergen (malangnya kau nak... bukankah dia juga punya nyawa? tak adil bukan? tapi apa yang bisa saya lakukan, ini adalah praktik, tapi tetap saja saya tak suka, bukankah banyak daftar paraktikum selain pencemaran? maksudnya. kita toh tidak harus mengorbankan makhluk hidup, mereka juga punya hak untuk hidup, saya bahkan tidak bisa mengatakan apa-apa, melihat matanya arggghh.... itu membuat sesak hati saya, saya bahkan tidak apa-apa kalau saya dibilang aneh -__- tapi saya sungguh menyayangi binatang)
Sejenak saya melihatnya lagi, tubuhnya bergolak, mungkin bila ia bisa bergerak atau berteriak ia akan meminta tolong, setidaknya akan mengeluarkan suara, namun ia bahkan tak bersuara, hanya diam, memberontak, matanya sayup seakan mengatakan "tolonglah saya..kenapa melakukan ini pada saya, apa salah saya?" ah... saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya tak ingat berapa jumlah ikan emas itu, yang saya tau lebih dari beberapa. Dan setelah selesai mereka praktik, saya mengambil ikan tersebut yang memang tersisa 3, karena tak ada yang mengurusnya, akhirnya saya mengambilnya untuk dirawat saya.

Setelah sampai kos, dan meletakkan ikan tersebut pada botol yang sudah tak terpakai, saya memutuskan untuk memberi nama keduanya. Rendra dan Nata. Rendra memiliki tubuh kecil dan warna oranye nya yang pudar sedangkan Nata memiliki tubuh lumayan besar dan memiliki warna oranye yang kuat. Saya menyukainya, neomu neomu :D
Namun Nata memiliki umur yang singkat, keesokkan harinya ia sudah mengapung dengan tubuh pucatnya, ah... mungkin tak sanggup gegara praktikum kemaren. Tapi Rendra masih hidup, berputar-putar, mungkin lapar.
hanya 6 butir makanan yang saya berikan, setiap pagi dan sore.

#Stayhealty Rendra :)

My Beloved Rendra

Posted by : la plui
Date :Minggu, 13 April 2014
With 0komentar

Maafkan

| Senin, 31 Maret 2014
Baca selengkapnya »
Betapapun jauhnya itu... saya tetap saja memikirkan, apa yang dimakan, apakah baik-baik saja disana, apakah mengingat saya yang jauh disini, seberapa rindu kepada saya disini, apakah sebahagia saya disini, bahagia yang menyakitkan.... namun ternyata memikirkan juga menjadi masalah saya. Maafkan saya.

Adakalanya saya menghindar untuk kembali. Saya tahu pasti Yang Kuasa menjaga, mengawasi namun apalah daya saya begitu rapuh untuk menerima segalanya. Maafkan saya.

Hanya ijinkan saya pergi, meski nantinya saya timpakan beban yang mungkin tak sanggup di tanggung. Apalah yang bisa saya persembahkan, karena saya adalah anak durhaka itu. Bolehkan saya menggugat takdir? Mohon Maafkan saya. Mohon....

Berat. Tuhan tahu betapa berat hidup saya. Hingga mereka-mereka kira saya tak pernah ada masalah sedikitpun. Taukah kawan.... jangan tertipu senyum palsu, jangan terlena dengan candaan menawan, karena ia tak bisa mengukur seberapa berat beban yang ditanggung. Saya tak minta dikasihani, sungguh sekuku jari tanganpun tidak. Lalu apa salahnya jika saya menangisi hidup saya? saya tahu pasti itu dilarang, tapi bisakah saya mengulurnya lima menit saja? Karena yang saya punya sekarang hanya air mata. Maafkan saya.

Duhai... benar saya tidak ingin berandai. Karena menginsyafi hidup adalah yang bisa saya lakukan. melangkah, melupakan. Apalah daya si anak durhaka... merelakan pun mungkin ia tak pernah mampu. Tapi ajarkan ia,bagaimana menyentuh ikhlas, membiarkan segala hatinya ringan, seringan kapas, Ajarkan ia menjadi anak baik, yang nantinya menghapus segala kedurhakaannya kepada hidup, kepada yang memberi. Ajarkan bagaimana ia mencintai setelah terluka. Ajarkan ia menutup lukanya dalam-dalam. Ajarkan ia bertahan..  setidaknya memberi senyum kepada yang tak bernyawa. Maafkan saya.. sungguh maafkan...

Apalah arti kesempurnaan... bahkan ia tak pernah ada. jangan kau samakan ia dengan nalai seratus yang diberikan guru kepadamu. Karena saya punya itu. bertumpuk-tumpuk tiga tahun kebelakang. Rasanya menyakitkan. Apalah artinya mendapatkan yang terbaik, pujian yang berlipat-lipat. Karena saya pernah punya itu.. bertahun-tahun yang lalu. dan sekarang saya menyesalinya, tak ada gunanya, hanya kau terlihat baik dimata orang. Dan akhirnya mengikatmu. melakukan ini, melakukan itu, tak boleh ini tak boleh itu. Apakah saya menggugat, anggap saja iya...bagaimana bila saya tumpahruahkan rahasia? Mungkin bisa saja saya berpegangan pada tangga.. Biarkan saja ia membusuk, dalam, dan tak tersentuh selamanya. Dan terkubur bersama mayat yang terbujur kaku. meliukkan kidung kematian yang menyakiti siapa saja yang mendengarnya. Ah...lupakan itu hanya omong kosong. Bukankah lidah tak bertulang. karena kejujuran adalah mata. Tapi mata tak sanggup bicara. Ia hanya menyaksikan, melihat tanpa memberi tahu seperti apakan hidup saya. Maafkan saya..maafkan saya

Tuhan memberi saya kekuatan, namun saya hanya berani mengambilnya sedikit. Dan itu adalah kesalahan saya. bagaimana bisa ia serapuh itu... Tuhan.. saya hanya tak kuat menahan nafas melihatnya, sakit rasanya disini. Bisakah saya tukar hidup saya untuk itu.. melihatnya bahagia, membiarkannya bernafas lega.. karena ia juga berhak untuk itu. 
Jangan kira ini adalah film saga, yang laris di bioskop dengan banderol mahal. Ia tak semurah itu.. 
Maafkan... Maafkan saya, apapun itu maafkan saya..

Kesalahan saya bertumpuk tumpuk. jadi yang saya bisa lakukan hanya memohon, merintih maafkan saya maafkan saya. berulang ulang, berpuluh-puluh. Tak ada ampun.. dan saya hanya menangis tergugu di daun pintu yang tak berkunci. memegangi kaki kedua kaki saya. Lihatlah... ia hanya seonggok daging tak berguna.. hanya bisa memohon. Lalu katakan pada saya, apa yang saya bisa lakukan? saya sudah melakukan semuanya, jadi biarlah saya memohon. Setidaknya ketika saya harus menunggu beberapa tahun, Dan Tuhan akan menjaga, ketika saya menunggu disini. Jadi maafkan saya... maafkan

Maafkan karena itu tak pernah cukup, maafkan untuk maaf yang tak tersampaikan... 




Maafkan

Posted by : la plui
Date :Senin, 31 Maret 2014
With 0komentar

Rabu

| Sabtu, 29 Maret 2014
Baca selengkapnya »
Bukan aku membenci Rabu,
Katakan kalau Rabu itu hari yang indah,
Katakan kalau Rabu itu hari yang menakjubkan, penuh keajaiban
Namun nyatanya Rabuku tidak seperti itu,
Ia terlalu membuatku gugup sepanjang pagi hingga menjelang sore
Ia sungguh membuatku melakukan hal-hal yang memalukan yang tak pernah kubayangkan aku melakukannya...

Bisakah kita berdamai?
Hanya untuk hari rabu, bukan... untuk hari-hari saat kita bertemu
untuk waktu-waktu saat kita bertatap mata..
Rasanya melelahkan bukan?
Ah ya... mungkin bagimu tidak...
setidaknya hentikan pertanyaan-pertanyaan yang menganggu malam panjangku
Atau... menjauhlah dari tempat dudukku

Rabu...
Rabu....
Rabu...
Semoga Rabuku besok menyenangkan


Rabu

Posted by : la plui
Date :Sabtu, 29 Maret 2014
With 0komentar
|
Baca selengkapnya »
Mengapa kamu bisa dekat
Mengapa kamu berbicara dengannya lebih banyak
Mengapa harus dengan dia dia dan dia?
Mengapa kamu lebih beruntung?

Pertanyaan yang sering ditanyakan mereka, mereka yang hanya mengenalku "sedikit". Bukankah lelah ketika ditanya dengan pertanyaan sama dan berulang-ulang oleh orang yang berbeda? Anggap saja Aku menganggap mereka sama, tak ada yang berbeda. Jadi berhentilah bertanya.

Bukankah aku menyapamu seperti aku juga menyapa mereka? bahkan aku tak peduli siapa itu, laki-laki atau perpempuan
Aku juga tersenyum untukmu dan untuk mereka, 
Aku juga menjawab pertanyaanmu yang ditanyakan oleh mereka, Tapi mengapa mereka lebih dekat denganmu ketimbang denganku?

Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaanmu bila yang kau tanyakan yang seperti itu
Karena aku tak mempunyai jawaban itu untukmu. Sudahlah... 
Posted by : la plui
Date :
With 0komentar

Aku dan Taufik Hidayat

| Selasa, 25 Februari 2014
Baca selengkapnya »
Kok itu melambung ke arahku tajam, meliuk-liuk seperti burung perkutut yang sedang terbang, dan kusambut dengan ayunan mantap dari sebuah raket yang kupegang dengan tangan kanan, kakiku sedikit melonjak, menciptakan balasan tajam, langsung ke arah sasaran dan.... smash....!!!
yahhey... skor 21-20, dan aku menang... menang untuk pertama kalinya melawan Taufik Hidayat gadungan, kami sama-sama tertawa, mengusap peluh, dan meminum air putih dibawah pohon beringin disudut lapangan, rambut kuda kami sudah dipenuhi peluh dan menyisakan nafas yang masih tak beraturan.

Bermain bulu tangkis memang menyenangkan, tentu saja bersama Taufik Hidayat gadungan ini.. haha sebut saja namanya Astri, tetangga yang sekaligus sahabatku ini sedang berperan sebagai Taufik Hidayat sedang aku adalah Susi Susanti. Jangan heran, bermain peran bagi kami selalu menyenangkan, kadang selain aktor badminton, kami juga bermain peran sebagai aktris india, dia sebagai Tina dan aku sebagai Anjali, atau telenovela, dia sebagai ana dan aku sebagai renata, haha... masa kecil memang penuh kenangan. Terlebih ketika saat itu para bandit-bandit kecil ini sudah berkumpul, seperti Angga, Erni, Aji, Nanda, Silo, Andre, Anggoro, Ina, Rizka, Ratna, Sri, Rosyid, dan lainnya, kami selalu bermain gim-gim(an), atau singkongan, atau petak umpet atau bahkan sepiring dua piring. Sangat menyenangkan, tapi sekarang kami sudah dewasa, sudah punya dunia sendiri-sendiri. Ada yang kerja di Jakarta, ada yang di jogja ada yang di Solo. Hampir semuanya meninggalkan kampung. hanya satu-dua yang tersisa. Ah... aku merindukan kalian, merindukan masa kecil kita.

Di desa kami, ada 3 sekolahan (SD) dan rata-rata dari kami memasuki SD yang sama, yakni SD 5, Sedang dua SD yang lain adalah SD 1 yang merupakan SD favorit dan SD 2 yang pada jaman kami merupakan SD yang paling sedikit jumlah muridnya. Sama seperti kebanyakan Sekolah pada umumnya, terlebih jika jaraknya sangat berdekatan. SD 1 dan SD 5 adalah SD yang saling berteman (?) sedang SD 2 adalah SD musuh, hampir pernah terjadi tawuran antaran SD 5 dan SD 2, karena SD kami tidak ada pembatas dindingnya jadi siswa sangat leluasa masuk keluar SD tetangga, waktu itu aku masih kelas 3 SD, aku bahkan tak tau bagaimana asal muasal perang saudara ini terjadi, namun sepertinya ini sudah ada sejak jaman dulu, jaman bapak-bapak kami. Dan parahnya lagi adalah aku juga ikut  berperan penting dalam peperangan ini hehe :D

Aku kecil adalah anak tomboy yang suka kelayapan bareng tetangga-tetangga, melakukan ekspedisi konyol. seperti menyusuri klegung (sungai yang lumayan besar), audisi manjat pohon kelapa, ekspedisi keliling desa jalan kaki sampai merencanakan kejahilan-kejahilan yang cukup membuat seseorang menjerit histeris. aku kecil terkenal titis (bila melempar sesuatu selalu tepat sasaran) dan itu lah yang membuat aku dilibatkan dalam peperangan melawan SD 2 yang saat itu menantang kami untuk pertandingan kasti. Aku yang saat itu masih kelas 3 hanya menurut saja ketika diperintah untuk ikut kasti melawan SD tetangga. Aku cukup paham situasi ini baru sekitar 15 menit dimulai, tim kami memimpin. Namun SD tetangga sepertinya tidak terima, jadi akhirnya adu mulut pun terjadi diantara senior kami. Dan salah satu suporter dari mereka memulai melempar batu.. hampir saja kami juga membalas dengan lemparan batu seandainya guru kami tidak datang. hoho... dan sejak saat itu kami gencatan senjata karena ada ancaman dari guru kami :D

Dan sore ini, aku kembali badminton, bukan dengan Taufik Hidayat lagi, namun dengan cowok kecil yang tampan...haha.. keponakanku, yah... mengisi hari selagi belum kembali ke semarang, dan melakukan akitivitas setelah sakit beberapa hari. Dan tetap tanpa Susi Susanti dan Taufik Hidayat.

Aku dan Taufik Hidayat

Posted by : la plui
Date :Selasa, 25 Februari 2014
With 0komentar

Berbahagia Untukmu

| Sabtu, 15 Februari 2014
Baca selengkapnya »
Tiupan angin semakin dingin menyelimuti kota kecilku
Ia nampak pucat, ia seperti tak bernyawa
Menyeretku kebeberapa tahun yang kutinggalkan sendirian
Dan bila...
Mungkin saja saat ini aku tak sendirian,
Mungkin saja ada sebening mata mungil yang memandangku cerah,
Atau tangisan ditengah malam yang membuatku bangun dari rentetan mimpiku
Bukankah indah yang demikian?
Namun aku menyebutnya takdir
Takdir bahwa aku memutuskan untuk memutus segala ikatan yang ada
Sejak kita masih dibuaian
Sehingga aku bisa merasa lega bahwa kenyataannya aku masih berdiri bebas
Memandang senja yang melambai ke arah rembulan
Aku sudah melupakan namamu
Jadi..
Jangan merasa bersalah ketika kau mendahuluiku menjemput separuh dienmu
Jangan melihatku dengan mata sendu yang tak ingin kau perlihatkan padaku
Aku berbahagia untukmu
Aku berbahagia untuk masa sekarang yang menakjubkan
Aku berbahagia mengenal orang-orang yang menyayangiku
Aku berbahagia dengan mereka yang disekelilingku
Aku berbahagia untukmu

Dan malam menghapus kenangan tentanmu


Berbahagia Untukmu

Posted by : la plui
Date :Sabtu, 15 Februari 2014
With 0komentar

Aku Hanya Ketakutan

| Selasa, 04 Februari 2014
Baca selengkapnya »
Aku tak membicarakan bagaimana jatuh cinta, ia sudah ada sejak dulu, jauh di masa lalu
Aku tak membicarakan rindu, yang bila semakin ingin di lenyapkan, akarnya akan semakin mencengkeram erat
Aku tak membicarakan benci, bagaimana bisa ia tak disandingkan dengan keduanya? hanya karena ia terlihat angkuh
Aku tak membicarakannya, juga segala yang melekat padanya
Aku tak membicarakan cara kerjanya, semua orang sudah mengetahuinya
Aku hanya perlu melakukan dengan benar

Aku terlalu berani untuk jatuh cinta, karena aku tak tahu ia akan semenakutkan saat ini
Jangan tanya mengapa aku takut jatuh cinta
Sama seperti kau tanyakan padaku mengapa aku takut dengan serangga berkaki enam
Ada alasan, namun ia sudah terkubur ribuan waktu yang telah berlalu
Bahkan kau tak akan menemukannya, meski kau bisa kembali ber-reinkarnasi
Lihatlah dirimu, menatapku saja kau tak setajam menatap puluhan mata yang berdiri di hadapanmu
Lupakan, karena nantinya itu menyakitkan

Sudah terlalu banyak aku menolak..
Terhitung ketika aku mampu membaca kalimat demi kalimat dengan tartil
Lalu ia raib,
Bukan dia, hanya aku yang melarikan diri
kenapa? jangan kau tanya
Aku hanya ketakutan

Lalu aku menemukanmu di sudut senja yang hampir hilang ditelan malam
Bagaimana bisa aku bergerak, sedang kau hanya membeku
Persis seperti tak bernyawa
Aku tau benar itu kau
Bisa apa aku jika memang sudah ditakdirkan seperti ini?
Aku kembali ketakutan
Bisakah kita membuatnya lebih sederhana?

Dan kau menjawabnya dengan pertanyaan
"bisa apa kita? kita hanya perlu melakukannya"
Dan kau benar, selalu benar.


Aku Hanya Ketakutan

Posted by : la plui
Date :Selasa, 04 Februari 2014
With 0komentar

Aku hanya Ingin

| Selasa, 28 Januari 2014
Baca selengkapnya »
Aku hanya ingin... bertemu, menyapa, bertanya...
Namun waktu sepertinya enggan bertamu denganku
Mungkin Hanya ia sulit untuk dijangkau,
Jangan menyalahkan waktu, mungkin aku yang tak ingin bertemu, atau kau yang ingin menghindar
Dan disela keduanya, waktu berbicara

Aku hanya ingin... hanya sekedar berada di tempat yang sama
Sesulit itukah berbicara? jangan tanya padaku
Aku memang tak terbiasa memulai
Sekalinya ada kata, maka ia terlalu terlihat ambigu
maka jangan pandang aku sebelah mata, hanya aku tak terbiasa
Bukankah perlu waktu panjang?
dan lagi
waktu

Aku hanya ingin... bersua
Namun Tuhan membuatnya lebih indah dengan ketidakhadiranku
dan aku hanya bisa menerima
karena memang aku bukan diciptakan untuk bisa di waktu dan tempat yang sama
mungkin juga akhir yang sama
jadi dimana letak ketidakadilan itu?
ia jauh di awang-awang

Aku hanya ingin... 
dulu ada beberapa bait yang tersusun rapi
namun ia kini hilang, berbekas namun sekarang tak bermakna
apa artinya jika aku membuatnya seperti ini?
ia adalah nada-nada yang terbuang
aku hanya tak percaya, dulu aku membuatnya untukmu
pun sampai sekarang
tak ada alasan mengapa aku melakukannya, 
mungkin karena aku hanya ingin

Aku hanya ingin...
Seribu bahasa yang kususun, hilang ketika aku sadar dari tidur panjangku
Siapalah dirimu, siapa juga aku

Aku hanya ingin.....

Aku hanya Ingin

Posted by : la plui
Date :Selasa, 28 Januari 2014
With 0komentar

Tak Perlu Hidup dalam Waktu yang Lama

| Sabtu, 25 Januari 2014
Baca selengkapnya »
bagaimana rasanya bahagia...? ambigu, rasanya aku tak pernah sebahagia ini.
aku mulai melupa, lupa caranya melupakan
rasanya seperti aku tak perlu hidup dalam waktu yang lama, aku bahkan melupakan waktu yang pernah membersamaiku
maka aku menulis sebisa aku menulis
aku bersenandung, hal yang tak pernah aku lakukan dalam sewindu ini
rasanya sakit, dan aku tak mau kembali merasakannya
maka jika bisa, aku mengharapkannya seperti ini saja, hari demi hari
namun tak pernah bisa tawa berdiri sendiri, ia selalu bersanding dengan tangis
jadi biarkanlah sejenak, aku melewati beberapa detikku ini
hingga aku mulai mengingat
hingga aku mulai menggenggamnya
dan meneruskan segala yang telah ditetapkan untukku
aku tak memaksa diriku mengenangnya
hingga nantinya aku mulai berharap, karena harapan tanpa kenyataan
seperti menemukan jarum dalam milyaran jerami
melelahkan
hidup ini sudah sangat melelahkan, jadi aku tak ingin membuatnya semakin melelahkan
dan aku tak ingin kembali berharap
hanya seperti ini saja...

Tak Perlu Hidup dalam Waktu yang Lama

Posted by : la plui
Date :Sabtu, 25 Januari 2014
With 0komentar

Satu Episode-ku

| Kamis, 23 Januari 2014
Baca selengkapnya »
Maka memutuskan adalah kelemahanku...
Aku berdo'a, menyebut namanya, satu per satu..
Namun Tuhan memilih namamu untuk mendapatkan suatu yang kujanjikan,
Apakah aku menukarnya..? tidak.. hanya kesepakatan..
Apakah aku menyesal...? ya... 
Namun sesalku tak seberapa besar dibanding nyatanya do'a yang dikabulkan...
Lihatlah...meski aku tak menyuarakan, meski aku pernah menanyakannya padamu, meski aku pernah menegurmu, dan meski aku mengabaikanmu..
Tapi Tuhan tidak pernah.. Ia ada, selalu ada.. selalu disisimu, disisiku

Jadi.. berhentilah bertindak konyol
pandanglah kedepan, namun jangan pernah melupakan yang dibelakang
meski bisa dikatakan hanya satu episode
sesekali tengoklah.. karena mereka ada untukmu

lima bulan berlalu, seperti berlalunya aku dalam hampir setengah tahun
apa yang bisa kuperbuat..aku hanya harus menepatinya
aku hanya harus melakukannya
meski terkadang, terbait dalam mimpi-mimpi
aku menganggap Tuhan memberikannya sebagai bingkisan kecil untukku
berjuanglah...
selamat berjumpa di episode selanjutnya.. jika dikehendaki
atau selamat tinggal untuk waktu yang lama...

#brother

Satu Episode-ku

Posted by : la plui
Date :Kamis, 23 Januari 2014
With 0komentar

Cermin Benggala

| Minggu, 05 Januari 2014
Baca selengkapnya »
bukan masalah waktu, tapi kehilangan adalah hal yang menyakitkan dalam kehidupan yang teramat sempurna
bukan seperti hilangnya harta, bukan pula rupa, namun harga diri adalah kasta tertinggi
ia tak berwujud, namun mewujudkan
yang tak nampak menjadi nampak
yang tak ada menjadi ada

lalu kudengar sumpah serapah dibalik cermin benggala

macam tak ada kata yang lebih baik
ia justru menumpahkan amarahnya yang teramat bergejolak
dan setan telah ada padanya
tanyakan padanya
masihkah ia tau siapa namanya?

waktu tiada lagi berguna

tak ada andai tak ada jika
ia sudah tergeletak berlawan dirinya
ada setetes dua tetes mata yang sempat terfigura
apalah gunanya, ia sudah membatu

kudengar hentakan dan helaian dalam waktu bersamaan

semakin pucat wajahnya
semakin nanar pandangan matanya
duhai...dimanakah sumpah setia sepuluh tahun lalu?
tak berbekas,

Cermin benggala terdiam menyaksikan,
Biar Tuhan yang balas semua kisah menyedihkan
Karena ia tahu, Yang di Atas mboten sare


Cermin Benggala

Posted by : la plui
Date :Minggu, 05 Januari 2014
With 0komentar

Arja Panangsang

| Minggu, 29 Desember 2013
Baca selengkapnya »
"Ing waktoe poenikatetijang Djawi kathah kang sami remennggegoeroe lampah ing agami Rasoeltoewin nggegoeroe kadigdajan sarta kategoehanGoeroe waoe ingkang sampoen misoewoer kekalihsatoenggil kandjeng Soenan Kalidjagakalih Soenan ing KoedoesSoenan Koedoes waoe moeridipoen tetigasatoenggil Pangeran Arja Panangsang ing Djipangkalih Soenan Prawoto, tiga Soeltan Padjang\ngkang sipoensihi pijambakPangeran Arja Panangsang"


(Poenika Serat babad Tanah DjawiWiwit Saking Nabi Adam Doemoegi Ing Taoen 1647Kaetjap wonten ing Tanah Nederlan ing Taoen 1941)

Arja Panangsang

Posted by : la plui
Date :Minggu, 29 Desember 2013
With 0komentar

RINDU

| Sabtu, 28 Desember 2013
Baca selengkapnya »
Aku kembali menulis, lama rasanya aku tak menulis (lagi)


Setelah kegiatan yang beruntun dari a-z darii KKL sampai LDKr ohhhoo... ternyata, aku masih merindukan jaman-jaman dulu. Saat masih berseragam putih abu-abu. :D
kesana-kemari bareng-bareng (sekarang juga bareng-bareng sih.. tapi beda orang), tapi sekarang, udah pada punya jalan sendiri-sendiri, udah punya jodoh sendiri-sendiri (aku kapan...?? :o) yang A udah di negeri orang, yang B udah punya anak mau 2, yang C udah lewat jalan pintas (pacaran), yang D kerja kayak Bang Toyyib, yang E sibuk ngampus enggak pulang-pulang, yang disini sendirian T.T (kasian kali kao nak...)


Emang ya.. namanya hidup, cepet skali rasanya, kemaren kayaknya baru lulus dari TK eh... enggak taunya udah punya anak yang mau masuk TK, rasanya baru beberapa hari lulus SMA, eh... enggak taunya udah mau skripsi, emang bener cepetnya....  jadi ketika kumpul bareng sama temen yang dulu nih,pertanyaan paling mendasar adalah "kapan kamu mau nusul kami lu'...??" (alamaak...) lagi ada yang tanya, "lu' kamu kok gak pacaran sih...? nanti kalau nikah gimana? dijodohin? trus kenalnya dari mana dong..?? " (ya.. semua orang dijodohin kali, sama Tuhan, elu juga), ada lagi tingkah kakak kelas yang rada aneh, waktu itu saya lagi belanja di sebuah mini-market di semarang, nah.. enggak taunya nih, ketemu sama mas-mas temennya kakak kelas saya (ribet -_-) sebut saja namanya mbk melati (nama samaran) dan mas steven ( nama samaran, asal sih.. cuma gara-gara rambutnya mirip steven william, nah kita sebut mas steven), bengini nih ceritanya :

(saya sibuk nyari cemilan buat nemenin ngerjain tugas, si embaknya lagi nyari minuman, tiba-tiba dari seberang muncul mas steven,)
mbak melati : "eh... ada steven, carriiii apaaa steven" (gaya  lebay)
Steven : "cari minum" (cooll)
aku : ................. (huek)
mbak melati : "lho emangnya mau kemana sihh... kok banyak bgete..??
Steven : "mau ke ungaran, muncak"
mbak melati: "sama siapa ven.."(kepo banget diia)
Steven : "anak kos"
mbak melati : " itu hlo dek lu' mau ikut..."
(aku yang lagi nyari camilan jadi frozen... kok aku?? kontan mas steven nya juga melotot ke aku, dalam batin "apa-apaan...?? kok gua yang jadi sasaran")
dan bla bla bla.....*) sensor
nah... waktu uda keluar dari mini-market saya tanyain tuh embaknya, maksudnya apa gitu..?? orang saya jelas-jelas gak tau apa-apa kok dilibatin, dia jawabna nyante "gini hlo dek... gua tuh mau ngedeketin elu sama dia.. biar jodoh, kurang baik apa gua sama elu...?? udah dia cakep (emang sih...) cocok kan?? elu harusnya berterimakasih dong sama gua"

#gubrakk..... duh mbak... 

nah itu dia, padahal dia nya juga udah paham nih, kalau saya itu enggak mau pacaran, masih aja nekat ngedeketin saya sama anak orang... wah wah... kayakya dia udah alih profesi jadi mak comblang.

Dan memang, lingkungan mempengaruhi pergaulan, tapi tetep rindu yang dulu. Yang ketika salah diingatkan, yang ketika melakukan kebaikan didukung... Rindu.


RINDU

Posted by : la plui
Date :Sabtu, 28 Desember 2013
With 0komentar

Dengan Cinta

| Senin, 04 November 2013
Baca selengkapnya »
Dengan cinta, aku menuliskan beberapa baris puisiku untukmu
yang memikat jiwa ketika pandangan pertama menghujam, menyunggingkan senyum tanda perpisahan,
karena dengannya ia menjadi dekat dan dengannya pula ia seperti bayangan, tak teraih meski kau hanya beberapa inchi darinya. sudahlah pagi masih beratus-ratus jumlahnya, mari kita pikirkan esok

Dengan cinta, aku bersumpah setia, bahwa aku tak mengizinkan, karena kita rembulan dan matahari, dan Tuhan tak mengizinkan setelah Ia mengizinkan, aku hanya berjanji, semuanya telah ada yang mengatur sama saat aku jatuh cinta denganmu. Hanya aku tak tau, seberapa singkat waktu yang diberikan, atau seberapa panjang penantian yang mengelilingi takdir.

dan kita berpisah dalam hujan. 

Dengan Cinta

Posted by : la plui
Date :Senin, 04 November 2013
With 2komentar

Setelah 85 Tahun Sumpah Pemuda

| Senin, 28 Oktober 2013
Baca selengkapnya »
1. Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku bertumpah dara yang satu, tanah air indonesia.
2. kami putra dan putri indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa indonesia
3. Kami putra dan Putri indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia

Sejarah mencatat, bahwa pemuda pernah berada dalam titik tertinggi di kehidupan Bangsa Indonesia. Mereka.. yang namanya tak pernah diingat, mereka yang saat ini tak bisa menyaksikan bagaimana bangsanya setelah masa mereka dan mereka yang tak sempat dikenali wajahnya. Namun mereka pulalah yang menjadikan bangsa kita menjadi satu, satu tanahnya, satu bangsanya, satu bahasanya dan satu hatinya. Karena lahirnya sumapah pemuda bukan sumpah semata, bukan sekedar umbaran kata yang tak adanya makna, namun sumpah yang mereka pekikkan dikala itu adalah bukti cinta mereka pada saudara mereka, bukti bahwa mereka ingin hidup berdampingan dengan bahagia tanpa usikan.

karena satu  pemuda saja ia bisa mengubah dunia, beda dengan seribu orang tua, karena ia hanya bisa bermimpi, itulah apa yang dikatakan oleh Presiden kita (Soekarno).
Bukankah sudah jelas, pemuda adalah titik penting dalam kehidupan ini, mereka punya mimpi, mereka punya semangat dan mereka punya konsep, yang bisa saja dengan semangat nya membangkitkan sebuah bangsa atau bahkan bisa menghancurkan bangsa. Karena pemuda adalah lentera.

Namun, 85 tahun selepas diikrarkan sumpah pemuda di tanggal 28 Oktober 1928 masihkan sumpah pemuda bermakna sama? atau hanya tinggal sebuah nama saja, atau bisa juga tinggal peringatan yang tak mereka tak pernah tau apa sebenarnya mereka melakukannya.
misal saat ini,
penjelasan yang sangat sederhana adalah kita sebagai generasi muda tidak mampu lepas dari konflik internal sesama anak bangsa.
hal tersebut tercermin dari banyaknya konflik terjadi di kalangan pemuda yang hingga saat ini belum terselesaikan, konflik suku, konflik agama, konflik antar organisasi, bahkan sampai pada konflik paling unik, yaitu perkelahian massa antar suporter sepak bola.

Ah masa bodoh, yang penting hidup bahagia... begitukah?? miris memang para pemuda sekarang bahkan tak (mau) mengerti bagaimana sejarah itu tercipta. Dan bagaimanakah dengan kita...???


Setelah 85 Tahun Sumpah Pemuda

Posted by : la plui
Date :Senin, 28 Oktober 2013
With 5komentar
Next Prev
▲Top▲